MUHAMMAD YUSUF: Penjaga Napas Tari Inai

Muhammad Yusuf lahir di Pekake, Lingga, pada 1 Juli 1959. Sejak kecil, kehidupannya telah bersentuhan dengan kesenian tradisi Melayu, khususnya Tari Inai. Pengetahuan dan keterampilan menari tidak diperolehnya melalui pendidikan formal, melainkan melalui proses pewarisan dalam lingkungan keluarga.
Ia belajar menari dari datuknya, Encik Muhammad Zen; sedangkan ayahnya bernama Jantan. Proses belajar tersebut menjadi awal perjalanan panjang Muhammad Yusuf sebagai salah seorang pelestari Tari Inai di Kabupaten Lingga.
Ketertarikannya terhadap Tari Inai telah tumbuh sejak masih duduk di kelas IV SD. Pada usia yang masih sangat muda itu, ia mulai mengenal gerak, irama, tata cara, serta nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Inai. Pengetahuan tersebut kemudian terus diasah melalui pengalaman, pengamatan, latihan, dan keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan adat dan kesenian masyarakat. Apa yang pada awalnya merupakan pengetahuan yang diwariskan oleh datuknya, perlahan menjadi keahlian yang melekat kuat dalam dirinya.
Puluhan tahun kemudian, Muhammad Yusuf tidak hanya dikenal sebagai penari, tetapi juga sebagai salah seorang yang memiliki penguasaan terhadap Tari Inai secara lebih utuh. Ia menguasai ragam gerak Tari Inai sekaligus memahami musik pengiringnya. Kemampuan menguasai tari beserta musik pengiring merupakan kelebihan penting karena Tari Inai tidak dapat dipisahkan dari hubungan antara gerak, irama, dan suasana adat yang melingkupinya.
***

Kecintaan dan komitmennya terhadap Tari Inai kemudian diwujudkan melalui Sanggar Sri Baiduri yang ia dirikan pada tahun 2010. Sanggar ini tidak hanya menjadi tempat berlatih menari, tetapi juga menjadi ruang pewarisan pengetahuan budaya kepada generasi muda. Di tengah perubahan zaman dan semakin kuatnya pengaruh budaya populer, Muhammad Yusuf tetap memilih untuk mengajarkan Tari Inai kepada anak-anak dan generasi muda agar pengetahuan yang diwarisinya tidak berhenti pada dirinya.
Konsistensi tersebut telah menghasilkan berbagai capaian. Sanggar Sri Baiduri yang dipimpinnya pernah meraih predikat sebagai juara Tari Inai terbaik se-Kabupaten Lingga pada tahun 2010, 2011, dan 2012. Prestasi yang diraih secara berturut-turut tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan Muhammad Yusuf bukan hanya penguasaan pribadi, tetapi juga kemampuannya membina dan mentransmisikan keterampilan Tari Inai kepada orang lain.
Aktivitas Muhammad Yusuf dalam Tari Inai juga telah membawanya tampil dalam berbagai kegiatan dan peristiwa kebudayaan. Ia bahkan pernah membawa anak didiknya untuk mempersembahkan Tari Inai di hadapan Wakil Presiden Republik Indonesia (saat itu) Boediono. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kiprahnya bersama Tari Inai tidak terbatas pada lingkungan sanggar, tetapi telah hadir dalam ruang-ruang kebudayaan yang lebih luas.
Di luar kegiatan sanggar, Muhammad Yusuf juga aktif dalam Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau Kabupaten Lingga. Keterlibatannya dalam lembaga adat memperlihatkan bahwa aktivitasnya dalam menjaga Tari Inai berjalan seiring dengan kepeduliannya terhadap adat dan kebudayaan Melayu secara keseluruhan. Ia juga kerap dipercaya menjadi juri dalam berbagai kegiatan dan perlombaan Tari Inai. Kepercayaan tersebut menunjukkan pengakuan masyarakat terhadap pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan yang dimilikinya.
Tari Inai sendiri merupakan salah satu warisan budaya penting masyarakat Melayu Kepulauan Riau dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Provinsi Kepulauan Riau. Dalam konteks tersebut, keberadaan tokoh seperti Muhammad Yusuf memiliki arti yang sangat penting. Ia bukan sekadar pelaku seni yang mampu menampilkan Tari Inai, tetapi merupakan pemilik pengetahuan budaya yang telah menerima warisan tersebut dari generasi sebelumnya, menguasainya melalui proses panjang, kemudian meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Perjalanan Muhammad Yusuf memperlihatkan sebuah mata rantai pewarisan yang masih hidup: dari datuknya, Encik Muhammad Zen, kepada dirinya, dan dari dirinya kepada generasi muda melalui Sanggar Sri Baiduri. Inilah salah satu alasan penting mengapa kiprahnya patut dilihat bukan hanya dari sisi prestasi pertunjukan, tetapi terutama dari sisi keberlanjutan pengetahuan dan pewarisan tradisi.

***
Selama puluhan tahun, Muhammad Yusuf telah menunjukkan kesungguhan, konsistensi, dan pengabdian dalam menjaga Tari Inai. Ia tetap mengajar, membina sanggar, tampil dalam berbagai kegiatan, menjadi juri, aktif dalam kelembagaan adat, serta terus membuka ruang bagi generasi muda untuk mempelajari Tari Inai. Pengabdiannya tidak berhenti pada pelestarian untuk dirinya sendiri, tetapi diarahkan agar Tari Inai tetap hidup dan dikenal oleh generasi yang akan datang.
Atas dasar perjalanan tersebut, Muhammad Yusuf layak dipertimbangkan untuk diajukan sebagai Maestro Tari Inai. Kelayakan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada lamanya ia menari, tetapi pada keseluruhan dedikasinya. Mulai dari proses pewarisan pengetahuan yang diterimanya sejak kecil, penguasaan terhadap Tari Inai dan musik pengiringnya, keberhasilannya membina generasi muda, prestasi Sanggar Sri Baiduri, keterlibatannya dalam berbagai kegiatan budaya, serta konsistensinya menjaga keberadaan Tari Inai di tengah masyarakat.
Muhammad Yusuf adalah gambaran seorang pelaku tradisi yang tidak membiarkan pengetahuan yang diwarisinya berhenti sebagai kenangan. Ia menjadikannya pengetahuan yang terus dipraktikkan, diajarkan, dan diwariskan. Selama Tari Inai masih ditarikan oleh generasi muda di Lingga, di sana pula jejak pengabdian Muhammad Yusuf akan terus hidup. (Syafaruddin)
