Bangsawan Singapura Kehilangan Arah?

Salah satu adegan dalam pertunjukan Bangsawan dari Singapura di TIM Jakarta, Jumat (7/8/2026) malam.
Pertunjukan drama bangsawan Singapura yang tampil dalam Festival Tradisi Lisan XIII (4-8 Agustus 2026) di Balai Sastra PDS Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (7/8/2026) malam, menyisakan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik: ke mana arah perkembangan teater tradisi Bangsawan Melayu-Singapura hari ini?
Pertanyaan ini bukanlah untuk menafikan kreativitas para pelaku seni, apalagi mengurangi apresiasi terhadap usaha mereka membawa kembali seni pertunjukan Melayu ke tengah masyarakat. Sebaliknya, pertanyaan ini muncul justru karena Bangsawan memiliki sejarah dan bentuk pertunjukan yang cukup kuat sebagai salah satu warisan teater Melayu.
Saya teringat pada pertunjukan Bangsawan yang dibawakan J.A. Halim—seniman-pelakon kawakan dan tokoh teater modern serta tradisi Bangsawan terkemuka asal Singapura yang aktif sejak era 1970-an—dalam dalam kegiatan Revitalisasi Budaya Melayu tahun 2012 di Tanjungpinang. Ketika itu, Bangsawan “Putri Kencana” tampil dengan struktur yang masih sangat mudah dikenali.
Cerita dibangun melalui dialog antartokoh. Pergantian layar atau suasana panggung sanat membantu; membawa penonton dari satu adegan ke adegan berikutnya, sementara judul dan cerita yang dipilih masih terasa memiliki hubungan yang kuat dengan dunia Melayu. Dengan demikian, penonton bukan hanya menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi juga dapat merasakan roh Bangsawan di dalamnya.
***
Mari kita bandingkan dengan pertunjukan yang dibawakan kelompok Bangsawan Singapura di TIM sempena kegiatan Lisan XIII, 2026. Kali ini, Noor Azhar, seorang CEO dari Opera Academy Singapura, memilih cerita Ramayana. Cerita tentang perjuangan Rama dan Laksmana menyelamatkan Sinta dari cengkeraman Rahwana tentu sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Karena alur ceritanya telah diketahui, penyampaian cerita lebih banyak dilakukan melalui tari dan nyanyian, sementara dialog menjadi sangat minim.
Di sinilah persoalan mulai muncul. Apakah pertunjukan seperti ini masih dapat disebut Bangsawan, atau sebenarnya sudah bergerak menjadi sendratari?
Pertanyaan tersebut penting diajukan, sebab—dalam Bangsawan—dialog dan permainan peran merupakan bagian penting dalam membangun cerita. Aktor tidak sekadar menampilkan gerak dan tari, tetapi menghidupkan tokoh melalui percakapan, konflik, ekspresi dan pergantian adegan. Unsur-unsur itulah yang membuat Bangsawan memiliki karakter berbeda dibandingkan bentuk seni pertunjukan lainnya.
Dalam pertunjukan di TIM tersebut, struktur yang selama ini kita kenal sebagai Bangsawan terasa semakin samar. Cerita memang tersampaikan, tetapi lebih dominan melalui gerak, tari dan nyanyian. Jika menggunakan istilah yang lebih dekat dengan bentuk pertunjukannya, barangkali “sendratari” justru lebih tepat untuk menggambarkan apa yang ditampilkan.
Namun, kritik ini tidak berarti pertunjukan tersebut tidak baik. Justru ada beberapa hal yang patut diapresiasi. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi panggung. Jika pertunjukan Bangsawan dahulu mengandalkan layar atau dekorasi untuk menggambarkan perubahan tempat dan suasana, pertunjukan kali ini memanfaatkan teknologi LED. Pergantian latar menjadi lebih dinamis, visual pun lebih kuat, dan tentu saja lebih sesuai dengan selera pertunjukan masa kini.
Begitu pula dengan busana. Upaya mempertahankan identitas Melayu masih terlihat, antara lain melalui penggunaan tanjak pada tokoh Rama dan Laksmana, serta baju kurung pada tokoh Sinta. Ini menunjukkan adanya usaha untuk memberikan sentuhan Melayu terhadap cerita Ramayana yang sesungguhnya berasal dari khazanah epos India dan telah berkembang luas dalam berbagai kebudayaan Asia.
Justru di sinilah eksperimen itu menjadi menarik sekaligus problematis. Di satu sisi, pembaruan memang diperlukan. Seni tradisi yang tidak pernah beradaptasi akan berhadapan dengan risiko ditinggalkan penonton. Teknologi panggung, musik, tata cahaya, bentuk koreografi dan cara penyampaian cerita dapat saja dikembangkan agar Bangsawan kembali menarik bagi generasi muda.
Tetapi di sisi lain, pembaruan jangan sampai menghilangkan identitas. Sebab, kalau seluruh unsur yang menjadi ciri Bangsawan perlahan-lahan dikurangi—dialog semakin sedikit, struktur drama semakin hilang, cerita tidak lagi dibangun melalui permainan aktor, sementara tari dan musik menjadi dominan—maka pada titik tertentu kita harus berani bertanya: yang sedang kita revitalisasi itu Bangsawan atau sudah menjadi bentuk seni pertunjukan baru?
***
Pertanyaan ini semakin penting ketika kita berbicara tentang pelestarian tradisi. Pelestarian memang bukan berarti membekukan tradisi dalam bentuk lama. Tradisi boleh berubah, bahkan harus mampu menyesuaikan diri dengan zaman. Tetapi perubahan sebaiknya dilakukan dengan memahami terlebih dahulu apa yang tidak boleh hilang dari tradisi tersebut.
Bangsawan boleh menggunakan LED. Bangsawan boleh menggunakan tata cahaya modern. Bangsawan boleh menggunakan musik yang lebih segar. Bangsawan boleh menggunakan teknik koreografi baru. Akan tetapi, ruh dramatiknya, struktur pertunjukannya, permainan tokohnya, dan kekhasan Melayu yang menjadi identitasnya perlu tetap dijaga.
Oleh karena itu, apa yang ditampilkan Bangsawan dari Singapura di TIM Jakarta dapat kita lihat sebagai sebuah eksperimen. Eksperimen untuk mencari bentuk baru agar Bangsawan kembali diminati, terutama oleh generasi muda. Eksperimen semacam ini tentu layak diberikan ruang.
Namun, eksperimen juga membutuhkan dialog kebudayaan. Perlu ada diskusi antara pelaku Bangsawan, seniman, budayawan, akademisi dan masyarakat Melayu mengenai: sejauh mana Bangsawan boleh berubah tanpa kehilangan jati dirinya? Jangan sampai atas nama revitalisasi, kita justru menghasilkan bentuk baru yang menarik secara visual, tetapi semakin jauh dari bentuk seni yang hendak kita selamatkan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah Bangsawan harus kembali persis seperti tahun 2012 atau bahkan seperti bentuk-bentuk Bangsawan masa lalu. Bukan itu. Persoalannya adalah: ketika kita menyebutnya Bangsawan, apakah penonton masih dapat mengenali bahwa yang mereka saksikan adalah Bangsawan?
Kalau jawabannya mulai samar, mungkin memang sudah waktunya kita duduk bersama dan membicarakan kembali ke mana Bangsawan Melayu hendak dibawa. Sebab revitalisasi tradisi bukan hanya soal membuatnya kembali tampil di atas panggung. Revitalisasi adalah menghidupkan kembali identitasnya, sambil memberinya ruang untuk tumbuh mengikuti zaman.
(Syafaruddin; Penggiat dan pelaku tradisi Melayu-Kepri, Datuk Setia Perdana dan Sekretaris Asosiasi Tradisi Lisan [ATL] Kepulauan Riau)
